Benteng Wolio

Sinopsis

Sinopsis

Kita pasti sudah mengetahui bahwa sebelum berbentuk negara Indonesia, berdiri kerajaan di wilayah Kepulauan Indonesia. Selain menyimpan nilai-nilai sejarah, tersimpan pula nilai-nilai budaya yang dapat kita gali dari peninggalan-peninggalan Kerajaan yang telah berakhir masa kejayaannya tersebut. Salah satu Kerajaan yang menarik untuk kita pelajari adalah Kerajaan Buton di Sulawesi Tenggara. Untuk mempertahankan wilayahnya, Kerajaan Buton juga membangun benteng pertahananan yaitu Benteng Keraton Wolio. Dan tahukah bahwa ternyata Benteng Keraton Wolio ini merupakan benteng terluas di dunia.

Pengantar

Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari Benteng Keraton Wolio: Benteng Terluas di Dunia ini, kamu dapat:

  1. Mengenal salah satu peninggalan sejarah dan budaya bangsa, Indonesia yaitu Benteng Keraton Wolio yang merupakan benteng terluas di dunia
  2. Mengetahui upaya pelestarian Benteng Keraton Wolio sebagai cagar budaya

|.

Mempelajari sejarah budaya di Indonesia merupakan salah satu upaya melestarikan budaya bangsa. kali ini kita akan mempelajari tentang peninggalan Kerajaan Islam Buton. Pada masa jayanya, kerajaan ini berdiri di Pulau Buton dan sekitarnya, tak jauh dari jazirah Sulawesi. Sekarang Kerajaan Buton sudah masuk menjadi bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia, dan memiliki banyak warisan budaya yang menjadi kekayaan bangsa. Salah satunya adalah benteng peninggalan Kerajaan Buton yang terletak di Kota Baubau Sulawesi Tenggara. Benteng ini sudah diakui dunia sebagai benteng terluas di dunia menggantikan benteng sebelumnya yang terdapat di Negara Denmark.

Geografis

Di manakah letak Benteng Keraton Wolio? Benteng ini terletak di Propinsi Sulawesi Tenggara, tepatnya di kota Baubau di Pulau Buton. Kota ini tidak terletak di daratan utama Pulau Sulawesi, tapi di Pulau Buton yang terpisah di sebelah tenggara Kota Kendari. Dahulu benteng ini digunakan sebagai salah satu alat pertahanan Kerajaan Buton dari serangan dari luar. karena letaknya yang lebih tinggi dari pantai, prajurit Buton dapat mengintai kapal dari luar yang memasuki wilayah kerajaan.

Untuk mencapai Baubau, kita bisa menggunakan transportasi pesawat dengan mendarat di Bandara Betoambari kota Baubau. Dapat juga dilakukan dengan perjalanan laut menyebrang pulau, setelah mendarat di kota Kendari, atau dari kota Makassar.

Kini Benteng Keraton Wolio menjadi situs sejarah budaya dan sekaligus objek wisata yang dapat kita kunjungi. Selain bangunannya yang luas, masyarakat Buton di sekitar benteng masih menjalankan tradisi budaya. Menarik bukan?

Benteng Wolio

Mari Mengenal Benteng Terluas Di Dunia

Indonesia memiliki banyak bangunan unik dan bersejarah yang merupakan peninggalan kerajaan yang pernah berjaya di wilayah NKRI. Siapa yang tidak mengenal candi Borobudur atau candi Prambanan? Selain candi, Indonesia juga memiliki bangunan benteng peninggalan Kesultanan Buton yang telah diakui oleh dunia dan Museum Rekor Indonesia (MURI) sebagai benteng terluas di dunia. Guiness Book of Record mengakuinya sejak bulan September 2006.

Benteng yang dikenal dengan nama Benteng Keraton Wolio ini berada di Kota Bau-bau, tepatnya di Pulau Buton Propinsi Sulawesi Tenggara. Benteng yang merupakan bekas ibukota Kesultanan Buton ini memiliki bentuk arsitektur yang cukup unik dan terbuat dari batu kapur.

Menurut sejarah, pada awal berdirinya benteng ini hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu yang disusun mengelilingi komplek istana dengan tujuan untuk membuat pagar pembatas antara komplek istana dengan perkampungan masyarakat sekaligus sebagai benteng pertahanan. Kemudian Keraton Wolio dibangun secara permanen pada masa pemerintahan Sultan Buton VI (1632-1645), bernama Gafurul Wadudu.

Ini fakta-fakta terkait benteng Keraton Wolio sebagai benteng terluas di dunia yang dapat kita ketahui:

|.

Mari Mengenal Benteng Terluas Di Dunia

Waktu yang paling tepat apabila kita ingin mengunjungi Benteng Keraton Wolio tentu saja pada saat cuaca sedang bersahabat yaitu pada musim kemarau. Karena pada saat itu kita dapat melihat pemandangan yang indah dan menakjubkan di sekeliling benteng dengan jelas. Benteng Keraton Wolio ini terletak di puncak bukit yang cukup tinggi dengan lereng yang cukup terjal memungkinkan tempat ini sebagai tempat pertahanan terbaik di zamannya.

Dari tepi benteng yang sampai saat ini masih berdiri kokoh kita dapat menikmati pemandangan Kota Bau-Bau dan hilir mudik kapal di Selat Buton dengan jelas dari ketinggian benteng. Selain itu, di dalam kawasan benteng dapat dijumpai berbagai peninggalan sejarah Kesultanan Buton, seperti meriam peninggalan Kesultanan Buton, yang dapat ditemui hampir di seluruh penjuru Benteng. Keliling Benteng 3 kilometer dengan tinggi rata-rata 4 meter dan lebar (tebal) 2 meter. Perhatikan pula bangunan benteng ini. Bangunan terdiri atas susunan batu gunung bercampur kapur dengan bahan perekat dari agar-agar, sejenis rumput laut.

|.

Apa Yang Menarik Di Benteng Keraton Wolio

Banyak objek yang bisa kamu ketahui dari benteng terluas di dunia ini dan memiliki kisah-kisah yang menarik, yaitu:


|.

Batu Wolio

Sepintas, bila melihat batu Wolio maka tidak heran jika kita berpendapat bahwa ini hanyalah batu biasa. Batu Wolio adalah sebuah batu biasa berwarna gelap. Besarnya kurang lebih sama dengan seekor lembu atau kerbau yang sedang duduk berkubang.

Batu ini berasal dari abad ke-14. Yang membedakan batu ini dengan batu biasa adalah kisah sejarah di belakangnya. dalam legenda disebutkan bahwa di sinilah, pertama kali Wa Kaa Kaa datang bersama rombongan Mia Patamia. Selanjutnya, Wa Kaa Kaa (seorang wanita bersuamikan Sri Batara seorang turunan bangsawan Kerajaan Majapahit) kemudian dijadikan Ratu Buton di kemudian hari. Pelantikan ratu tersebut dilakukan di atas Batu Popaua.

Batu ini berfungsi sebagai tempat pengambilan air suci/tirta untuk dimandikan kepada calon Raja/Sultan Buton sebelum dilantik. Konon bila Raja/Sultan benar benar calon yang terpilih, maka dari batu tersebut, akan keluar air yang akan digunakan untuk mandi. Menurut salah satu penduduk sana bila pengunjung berdiri di dekat batu tersebut, dan dari batu tersebut keluar airnya, konon segala harapannya akan terkabul.

|.

Batu Popaua

Teletak sekitar 200 meter dari Batu Wolio, di kaki sebuah bukit kecil tempat berdirinya Masjid Agung, kamu bisa menemukan Batu Popaua. Bagaimana kamu menggambarkan Batu Popaua? Mungkin terlihat biasa saja ya, permukaan batu hampir rata dengan tanah, namun mempunyai lekukan berukuran hampir sama dengan telapak kaki manusia.

Yang menjadikan batu ini menarik adalah kisah dan sejarah yang menceritakan bahwa di lekukan itulah pertama kalinya Ratu Wa Kaa Kaa menginjakkan kaki kanannya sambil mengucapkan sumpah jabatan sebagai ratu di bawah payung yang diputar sebanyak tujuh kali. Karena itulah batu tersebut disebut batu “popaua”, yang berarti batu tempat diputarkan payung raja. Tradisi pelantikan ratu atau raja di atas batu tersebut berjalan hingga zaman kesultanan.

Sekarang, Batu Popaua hanya menjadi situs bersejarah, tidak lagi digunakan untuk kepentingan upacara kerajaan.

|.

Makam Sultan Murhum

Situs lain yang menarik untuk dikunjungi di wilayah Benteng Keraton Wolio adalah Makam Sultan Murhum. Letak makam ini ada di puncak Bukit Wolio.barkan Batu Popaua? Mungkin terlihat biasa saja ya, permukaan batu hampir rata dengan tanah, namun mempunyai lekukan berukuran hampir sama dengan telapak kaki manusia.

Berdasarkan sejarah Kerajaan Buton, Sultan Murhum atau Sultan Kaimuddin Khalifatul Gamis yang merupakan Sultan Buton yang pertama. Sultan Murhum adalah sultan Buton yang memerintah selama kurang lebih 46 th, pada abad ke 15 (tahun 1538 sampai dengan 1584).

Bangunan makam dikelilingi pagar setinggi 4 meter yang berwarna putih. Dengan panjang sekitar 3 meter. Untuk masuk ke dalamnya kita perlu melepas alas kaki. Makam ini banyak dikunjungi oleh wisatawan dan peziarah.

|.

Masjid Agung (Masigi Ogena)

Masjid Agung ini terlihat sederhana dan bersahaja, namun menyimpan banyak kisah menarik. Masjid ini masih berdiri kokoh walaupun sudah berusia 300 tahun lebih. Masjid ini dibangun pada abad ke-17. Kerangka masjid terbuat dari kayu Jati Raha, yang berasal dari wilayah Raha, Pulau Muna. lokasinya tidak jauh dari Pulau Buton. Pulau Muna dikenal sebagai daerah penghasil kayu jati yang terbaik di Sulawesi Tenggara.

Masjid yang dibangun oleh Sultan Buton XIX, yaitu Sakiudin Durul Alam ini memiliki 12 pintu masuk. Masjid ini tidak setiap hari dibuka untuk umum, masjid hanya dibuka setiap hari Jumat dan hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, yang menurut kepercayan setempat, gema suara bedugnya terdengar hingga Kota Mekkah.

|.

Istana Badia (Kamali Badia)

Masih di dalam kompleks keraton, kita dapat mengunjungi sebuah bangunan yang sarat dengan nilai budaya setempat. Istana Badia, atau dalam bahasa setempat disebut Kamali Badia, tidaklah megah, tampilannya berupa rumah tradisional dengan konstruksi kayu khas Buton. Tidaklah jauh berbeda dengan rumah anjungan Sulawesi Tengara di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta.

Yang menarik adalah, di salah sebuah kamar Kamali Badia terdapat meriam bersimbol naga tersebut dibawa leluhurnya Wa Kaa Kaa dari Tiongkok sekitar 700 tahun silam. Meriam itu masih memiliki peluru dan masih bisa diledakkan. Sesuai tradisi, rumah atau istana Kesultanan Buton harus dibuat keluarga sultan dengan biaya sendiri.

|.

Meriam Kuno

Pada masa kerajaan, benteng merupakan upaya mempertahankan kerajaan dari serangan kerajaan atau penguasa lain. Di lokasi Benteng Keraton Wolio kamu dapat menemukan meriam kuno yang pada masa lalu digunakan sebagai alat pertahanan.

Ada banyak meriam kuno yang terdapat di benteng ini. Untuk menjaga satu pos, biasanya ada empat sampai enam meriam yang mengawal. Benteng Keraton Wolio ini memiliki 16 pos penjagaan (bastion) atau yang dalam bahasa setempat disebut ”baluara”, maka dapat kita hitung kira-kira ada berapa banyak meriam yang dimiliki oleh benteng.

|.

Duabelas Lawa

Benteng Keraton Wolio memiliki 12 lawa. Lawa dalam Bahasa Wolio berarti pintu gerbang. Lawa berfungsi sebagai penghubung keraton dengan kampung-kampung yang berada di sekeliling benteng keraton. Terdapat 12 lawa pada benteng keraton. Angka 12 menurut keyakinan masyarakat mewakili jumlah lubang pada tubuh manusia, sehingga benteng keraton diibaratkan sebagai tubuh manusia. Ke-12 lawa memiliki masing-masing nama sesuai dengan gelar orang yang mengawasinya, penyebutan lawa dirangkai dengan namanya. Kata lawa diimbuhi akhiran 'na' menjadi 'lawana'. Akhiran 'na' dalam bahasa Buton berfungsi sebagai pengganti kata milik "nya". Setiap lawa memiliki bentuk yang berbeda-beda tapi secara umum dapat dibedakan baik bentuk, lebar maupun konstruksinya ada yang terbuat dari batu dan juga dipadukan dengan kayu, semacam gazebo di atasnya yang berfungsi sebagai menara pengamat. 12 Nama lawa diantaranya : lawana rakia, lawana lanto, lawana labunta, lawana kampebuni, lawana waborobo, lawana dete, lawana kalau, lawana wajo/bariya, lawana burukene/tanailandu, lawana melai/baau, lawana lantongau dan lawana gundu-gundu.

|.

16 Baluara

Menurut sejarah kerajaan Buton, kata baluara berasal dari Bahasa Portugis yaitu 'baluer' yang berarti bastion. Baluara dibangun sebelum benteng keraton didirikan pada tahun 1613 pada masa pemerintahan La Elangi/Dayanu Ikhsanuddin (Sultan Buton ke-4) bersamaan dengan pembangunan gudang. Dari 16 baluara, dua diantaranya memiliki gudang yang terletak di atas baluara tersebut. Masing-masing berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan mesiu. Setiap baluara memiliki bentuk yang berbeda-beda, disesuaikan dengan kondisi lahan dan tempatnya. Nama-nama baluara dinamai sesuai dengan nama kampung tempat baluara tersebut berada.

Penutup

Penutup

Menarik sekali bukan, kita memiliki peninggalan bersejarah berupa benteng yang terluas di dunia. Perlu diketahui bahwa benteng Keraton Wolio di Buton ini tidak hanya berdiri dan diam membisu. Namun, di dalam kawasan benteng keraton terdapat aktivitas masyarakat yang tetap melakukan berbagai macam ritual layaknya yang terjadi pada masa kesultanan berabad abad lalu.

Di dalam kawasan benteng terdapat permukiman penduduk yang merupakan pewaris keturunan dari para keluarga bangsawan Keraton Buton masa lalu. Di tempat ini juga terdapat situs peninggalan sejarah masa lalu yang masih tetap terpelihara dengan baik. Benteng ini mengelilingi perkampungan adat asli Buton dengan rumah-rumah tua yang tetap terpelihara hingga saat ini. Masyarakat yang bermukim di kawasan benteng ini juga masih menerapkan budaya asli yang dikemas dalam beragam tampilan seni budaya yang kerap ditampilkan pada upacara upacara adat. Ayo berwisata sambil mempelajari sejarah dan budaya negeri sendiri, kenali negeri kita, cintai negeri kita